Beranda · Menu · Menu 1 · Menu 2

PUISI: MENATAP SANG WALI

Menatap Sang Wali 

Getaran Ilahi melingkari tubuh 
Melirik menusuk jantung 
Darah beku, jasad bersimpuh 
Tertegun oleh kebesaran yang menggunung 

Hembusan sirr menyapa 

Menyusup lembut ke dada 
Berputar cerdas merata 
Hidupkan sel makrifat yang `tlah mati rasa

Hati berlinang air mata 

Sukma, terisak-isak sesenggukan 
Lintasan batin bungkam tak bersuara 
Gemerincing rindu, kembali didentangkan

Ruh menggeliat melepas lelah 

Ikatan hijab melonggar lemah 
Sultan malakiy bangkit tak menyerah 
Tentara Tuhan berbaris gagah

Menatap cermin-Nya yang indah 

Jernih dari segala defenisi dan teori 
Murni dari segala ego, nafsu, dan amarah 
Cita-rasa dari alam hakiki

Layaknya Musa yang tak mampu melihat-Nya 

Jatuh tersungkur bersama gunung yang hancur rata 
Namun saat cinta-Nya mi’raj ke sidratil muntaha 
Musa melirik ke arah-Nya, melalui wajah Thaha

Melaluinya aku mencapai dia 

Dan melalui dia aku mencapainya 
Lalu melaluinya sang pintu, kumasuk ke dalam kota 
Hingga dari kota itu, aku mencapai-Nya

Karena, dia … dengan-Nya melihat 

Sebab telinganya mendengar melalui-Nya 
Dua bibirnya, dengan-Nya mengucapkan kalimat 
Dialah … sebuah ranting dari akar pohon khalifah-Nya

Selasa/12-01-10

(Husin Nabil)

Artikel keren lainnya: